Pages

Kamis, 26 Mei 2016

Spirit dari Para Filosof Muslim untuk Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir: Sebuah Refleksi

Mata kuliah Filsafat Islam merupakan salah satu mata kuliah yang diberikan kepada mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. Pada tahun 2015, salah satu pengampu mata kuliah ini ialah Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah, mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga. Ia menjelaskan dalam Satuan Acara Perkuliahannya bahwa  deskripsi mata kuliah ini difokuskan pada usaha untuk memahami dasar-dasar pemikiran filsafat Islam yang terfokus pada arti, sejarah, problematika keilmuan, dan pokok-pokok pembahasan Filsafat Islam pada periode pra dan pasca Ibn Rushd. Dengan mengikuti mata kuliah ini mahasiswa diharapkan akan memahami tema-tema penting yang menjadi pokok bahasan para filosof Muslim dan perdebatan pemikiran yang terjadi pada masa tersebut serta menangkap semangat pemikiran kritis mereka, yang kemudian dapat dikontekskan dengan pemikiran Islam kontemporer.

Posisi tulisan ini adalah refleksi dari deskripsi yang dipaparkan oleh Amin Abdulah tersebut. Refleksi yang berupa poin-poin yang dirasa penting untuk diketahui oleh mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir.

Skeptis terhadap Metodologi

Banyak hal yang didapat dalam mata kuliah ini. Hal-hal tersebut sangat menarik dan sangat penting sebagai bekal untuk menjalankan mata kuliah pada semester-semester selanjutnya, pada bagian pertama ini yaitu skeptis terhadap metodologi.

Amin Abdullah pada materi kuliah sampai pada al-Ghazali, beliau (Amin Abdullah) menjelaskan bahwa dalam diri al-Ghazali terdapat dialog ketika al-Ghazali sebagai toloh kalam dengan kitabnya Ihya’ Ulumuddin, dan sebagai Filosof dengan kitabnya Maqasid al-Falasifah dan tahafut al-Falasifah, serta Ghazali sebagai tokoh Tasawwuf dengan karyanya Miskat al-Anwar dan Mumqid Min Al-Dalal.

Ini spirit yang perlu diterapkan pada jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, yaitu ketika tidak kepuasan seorang al-Ghazali tentang apa yang dia kerjakan yang dimulai dari kalam, kemudian dia mengkritiknya, dia mempelajari filsafat, kemudian dia juga mengkritiknya, lalu dia pergi ke tasawwuf kemudian dia memutuskan untuk memilih tasawwuf. Ini spirit yang bisa diambil dari al-Gazali yaitu ketidakpuasan terhadap apa yang dimiliki, dengan mengkritik pemikiran, interpretasi ataupun metodologi.

Mengingat suatu kata an-nusus almutanahiyyah wal waqa’i’ ghairu mutanahiyyah, yang kemudian menjadikan Mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir terus melakukan dan menemukan suatu solusi pada tantangan di zaman ini, sesuatu yang lebih baik untuk diterapkan pada realitas modern ini.

Humanis

Suatu hal yang menarik lagi dari sejarah pemikiran Filsafat Islam terdapat pada Suhrawardi. Diperoleh dari mata materi kuliah ini adalah Humanist yang diajarkan oleh Suhrawardi dan kemudian dipertegas oleh Mulla Sadra, Bahwa beragama haruslah Humanis tidak saling serang-menyerang dengan umat nabi lainnya, beragama tidak boleh kaku, tidak boleh statis melainkan beragama haruslah dinamis. Kita hendaknya toleran kepada umat agama lain. Dan untuk agama Islam sendiri yang diharapkan  tidak ada penfasiran al-Qur’an yang amat radikal. Inilah hal yang sangat penting untuk dipahami oleh Mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir.

Membaca Realitas

Dalam setiap pertemuan, Amin Abdullah sebelum memulai menjelaskan lebih dalam materi beliau selalu memulainya dengan membahas tentang sejarah, melihat  realitas pada saat itu, ini menjadi penting bagi mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, ketika menghadapi buku-buku para mufassir klasik, serta melatih penelitian (research) yang dilakukan oleh Ibnu Sina tentunya dalam Science. Penelitian terhadap tafsir-tafsir klasik ataupun melihat realitas menjadi penting untuk Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir untuk menghasilkan penafsiran al-Qur’an yang relevan dengan konteks sekarang ini.

Active Intellect

Salah satu karya Ibnu Shina adalah Qonun al-Tib, salah satu kitab yang menjelaskan tentang kedokteran. Karyanya tersebut dikaji oleh barat kira-kira 5 abad lamanya. Ibnu Shina mengajarkan Research atau penelitian sangat penting guna menemukan sesuatu yang belum pernah diketahui sebelumnya. Penelitian membutuhkan Akal dan Indra yang berarti merujuk kepada al-Farabi sebagai pengkontalasi antara pemikiran Plato dan Aristoteles.

Menggunakan Intelect Active ketika menghadapi sesuatu, menghadapi suatu ayat dengan penafsirannya, menghadapi hadis dengan interpretasinya, haruslah dikaji dengan komplit dengan penelitian yang empiris dan rasional sesuai dengan apa yang telah dilakukakan oleh  Ibnu Shina mengenai Research.

Independensi Akal
Terakhir inilah yang menjadi penting untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan mengembangkannya, setelah menggunakan akal, haruslah berani menanggapi sesuatu dengan gagasan-gagasan sendiri, berani menggunakan pemikiran sendiri, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Rusyd ketika menanggapi serangan dari al-Ghazali, beliau berani mengkritik dengan gagasan pemahaman sendiri, bukan dengan gagasan orang lain atau hanya mengumpulkan footnote saja dalam menghadapi suatu persoalan. Sapere Aude!

Jumat, 16 Januari 2015

Ungkapan Pragmatis :)

saya manusia Pragmatis :)
 
Untuk mencapai kejernihan yang sempurna dalam pikiran-pikiran kita tentang sebuah objek, maka, kita hanya perlu mempertimbangkan apa akibat-akibat dari suatu jenis praktis yang dapat dibayangkan dari objek yang dilibatkan. ... konsepsi kita tentang akibat-akibat ini, kemudian bagi kita adalah keseluruhan dari konsepsi kita tentang objek itu, selama konsepsi itu mempunyai signifikansi yang sama sekali positif. inilah prinsip dari pierce, pronsip tentang pragmatisme.

william James, "Philosophical Concept and Practical Result" (1898)